Langsung ke konten utama

21 Desember 2011

saya menulis ini karena sebuah selebaran berwarna biru..
Departemen Kriminologi selama sepekan ini memang sedang ramai mempromosikan anti teror di lingkungan FISIP dan UI..
hanya saja selebaran biru itu serasa menyentil hati saya..
Sebuah tulisan dengan judul "UI Sarang Teroris" menjadi headline..
Saya melihat bahwa segala tindakan yang dilakukan oleh BNPT bersama dengan Departemen Kriminologi dalam upaya sosialisasi tindakan anti kekerasan dan anti teror tidak memojokkan siapapun..
Namun dalam selebaran biru itu ditulis bahwa upaya-upaya penanganan atau pencegahan terorisme di Indonesia terlalu memojokkan suatu agama tertentu yaitu agama islam.
Selebaran itu mengatakan bahwa penemuan senjata di UI adalah memojokkan aktivis dakwah islam yang berjuang demi tegaknya islam dengan ikhlas..
saya merasa tidak ada yang salah dengan penemuan senjata itu, yang salah adalah meletakkan senjata itu di lingkungan UI. Kecurigaan akan selalu muncul jika ada pemicunya. Bagaimana bisa mengontrol pikiran rasional manusia jika pemicu itu tepat mengenai sasaran. Siapapun juga akan mengira adanya keterlibatan mahasiswa UI dalam upaya penyimpanan senjata tersebut di UI.
Selanjutnya kenapa para aktivis dakwah ini merasa dipojokkan? saya rasa karena di Indonesia terorisme dilakukan atas dasar agama yaitu agama islam. Agama islam memiliki simbol-simbol tertentu yang menunjukkan bahwa dia adalah orang islam. Para aktivis dakwah kampus ini menggunakan simbol-simbol tentang islam juga. Mungkin mereka takut disangka teroris, namun harus diingat bahwa kita hidup di lingkungan akademis yang tidak akan menerima rasio saja tetapi juga mencari sumber-sumber lainnya untuk  mendapatkan kejelasan. Namun jangan menutup mata juga tentang adanya rekruitmen yang dilakukan oleh jaringan-jaringan teroris seperti NII dan JI (karena penulis memiliki pengalaman tersendiri saat menemani seorang teman di sebuah foodcourt yang memiliki indikasi sedang melakukan perekrutan anggota NII). Oleh karena itu jika memang tidak ada keterlibatan dengan terorisme di Indonesia maka tunjukkanlah pada kami islam yang benar ( penulis beragama islam namun islam yang seadanya :).
Satu pernyataan yang membuat penulis bertanya-tanya, pernyataan yang tertulis dalam selebaran biru itu mengatakan bahwa para aktivis dakwah yang "berjuang demi tegaknya islam". Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana perjuangan itu dilakukan dan bagaiman tolak ukur untuk menyatakan bahwa islam telah tegak di UI khususnya di FISIP. Hla ini masih terlalu luas dan malah memberi anggapan hendak melakukan islamisasi bagi seluruh masyarakat kampus. Saya harap tentu saja bukan seperti itu...amiiinnn...

Selanjutnya terdapat suatu pemberitaan oleh VOA-Islam http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/20/17101/selama-sepekan-mahasiswa-ui-dicuci-otak-bnpt-soal-deradikalisasi/yang berjudul selama sepekan mahasiswa ui dicuci otak BNPT soal deradikalisasi benar-benar sangat menyedihkan bagi saya. Sedih sebab yang melakukan penuliasan itu adalah suatu suara dari lembaga yang benar-benar mengusung nama islam dan memiliki tag line "One voice of truth". Sungguh disesalkan, mengapa terdapat pandangan-pandangan miring terhadap upaya-upaya penanggulangan terorisme. Jika memang tidak setuju dengan apa yang dilakukan pemerintah maka beri saran bagaimana sebaiknya menurut anda. Jangan hanya bisa berbicara dan mengkritik tanpa solusi. Ini menyedihkan. Tunjukkanlah bagaimana islam yang benar menurut anda, sebab islam yang benar menurut saya adalah islam yang membawa kedamaian dan tidak menyakiti siapapun. Saya rasa masyarakat indonesia akan tenang dengan berakhirnya teror, jika memang orang-orang islam di luar sana merasa tersinggung dengan apa yang terjadi dan dengan pandangan masyarakat terhadap islam. Maka tolong tunjukkan pada kami bagaimana yang benar, bagaimana islam yang dapat membahagiakan semua orang. Tolong beritahu pemerintah bagaimana jalan yang anda mau untuk menanggulangi terorisme. Sekali lagi jangan hanya mencaci maki dan mengkritisi negatif dari apa yang telah dilakukan, beri saran untuk membangun Indonesia bersama-sama. Semua pasti mengharapkan Indonesia yang lebih baik.

Komentar

  1. Hmm, gue merasa disebut sin. Yup, pro dan kontra memang. Namun wajar juga itu si VOA-Islam bilang seperti itu karena mungkin terasa BNPT menyudutkan mereka. Namun juga wajar untuk BNPT melakukan itu, karena pada umumnya terjadi karena ideologi agama.

    Islam damai dan gue percaa itu.

    Yah, Let's make a peace !!!

    BalasHapus
  2. disebut kenapa yan? iya emang jadi dilematis gitu si yan.. harusnya bisa saling bergandeng tangan yan buat indonesia yang lebih baikk..

    walaupun yang gw tau tentang islamitu sempit tapi gw juga sangat percaya kalo islam itu membawa kedamaian...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bom Sarinah: Dari Gagalnya Intelijen Hingga Counter-Terrorism ala Netizen

Welcome 2016!! Rupanya tahun 2016 dibuka dengan suatu kejadian luar biasa di Jakarta. Pada tanggal 14 Januari 2016 terjadi teror bom di Sarinah. Mungkin kalian sudah melihat dan membaca berita mengenai hal tersebut dimana-mana. Bahkan pihak Humas Polda Metro Jaya sudah mengeluarkan kronologi kejadian pada hari tersebut (mungkin bisa dibaca disini ). Sasaran dari teror bom tersebut adalah Starbucks Cafe dan Pos Polisi. Korban meninggal akibat aksi terorisme ini berjumlah 7 orang. Sebelumnya saya akan mengingatkan bahwa tulisan saya agak-agak akademis hahahha. Sebab kali ini saya memutuskan untuk memberikan opini saya sendiri terkait kejadian ini. Kegagalan Badan Intelijen Baiklah.. ini memang menjadi pertanyaan besar ketika suatu aksi terorisme terjadi di suatu negara. Tentu ingat kan bom Paris yang menghebohkan di tahun lalu, pertanyaan yang muncul juga "apakah badan intelijen Paris kecolongan?" menurut saya itu mungkin. Tetapi seorang teman saya mengatakan "Bisa saja...

Nasionalisme Kami, Nasionalisme Bola

Entah sebuah kebahagiaan atau sebuah ironi yang menyedihkan. Kali itu saya sadar melihat lautan manusia di stadion Gelora Bung Karno. Dengan semua pernak-pernik merah putih, rakyat Indonesia berdiri tegak membela negaranya. Tak peduli dengan harga tiket ratusan ribu, tak peduli harus menjemur diri waktu mengantri, tak peduli ada pekerjaan esok pagi, Kami semua tetap berdiri dengan merah putih di dada kami. Kami tak pernah lagi ikut ceremony di senin pagi, kami bukan pengibar bendera di hari merdeka, kami bukan pemimpin upacara di hari kebangkitan nasional. Tapi carilah kami di semua pertandingan Indonesia, Suara kami tak pernah berhenti menggema meneriakkan satu kata “INDONESIA”. Kami mungkin dicela, kami dianggap tak beradab, melakukan bakar-bakar dan merusak. Sebenarnya kami hanya ingin katakan “ Kami Kecewa”. Dengan segala pengorbanan yang kami lakukan, kami tak rela pulang dengan kekalahan.  Kekalahan yang harus diceritakan pada anak kami bah...

Mengingat yang Lalu

Entah kenapa hari ini.. saya mengingat masa yang telah lalu.. masa dimana dengan semangat juang yang tinggi.. pergi menyambut asa.. bersama dengan segelintir orang.. yang sudah tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitar.. yang diingat hanya latihan dan kemenangan.. pukulan-pukulan tak terelakkan dari kawan.. serasa seperti ungkapan sayang.. malam demi malaam dilalui bersama.. tak peduli kata orang.. tak peduli bagaimana orang hendak menjatuhkan kami.. kami tetap berdiri.. Semangat demi semangat yang saling ditularkan.. terasa nyata di hati.. bahwa bukan sekedar basa-basi.. tapi sebuah kesungguhan hati.. Suasana hari itu.. dimana tak ada siapapun yang menjadi tempat bergantung.. akhirnya kita saling bergandeng tangan.. saling membantu dan berharap.. tak peduli dengan hasil yang didapat.. kami selalu pulang dengan penuh semangat.. semangat untuk menghabiskan malam-malam berikutnya.. tak pernah kutemukan lagi suasana itu.. malam-malam itu.. candaan itu.. ...